Idealisme yang Terpenjara Realitas

foto Penulis IMMawan Amin Rais
(Ketua Umum Terpilih IMM Cabang Dompu Periode 2026-2027)

Idealisme yang Terpenjara Realitas

Oleh : Amin Rais

Kita, generasi muda berada di tengah kondisi yang dilematis. Ada banyak gagasan konstruktif dalam kepala generasi hari ini yang tak dapat diaktualisasikan karena tidak memiliki ruang untuk memanifestasikan ide-idenya.

Seolah ada dinding yang memisahkan sekaligus membenturkan antara idealis dan realistis. Ironisnya, hegemoni realistis hari ini justru tampil terlalu ekstrem hingga mendiskreditkan idealisme itu sendiri.

Katakanlah kita membuat sebuah hipotesis dengan menyebut bahwa pendidikan adalah sarana solutif untuk memperbaiki serta membangun kondisi kebangsaan yang lebih baik melalui produksi sumber daya manusia yangg berkualitas. Namun realitas hari ini menunjukkan bahwa tantangannya tdk hanya berada pada satu aspek.

Institusi pendidikan kian hari dijadikan komoditas, bukan lagi sarana pembentukan karakter, moral, dan intelektual sebagaimana dicita-citakan negara dalam UUD 1945 alinea jeempat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Belum lagi pengaruh lingkungan dan stigma sosial yg mengklaim bahwa "pendidikan (formal) tidak penting, sebab pada akhirnya kita hanya akan mencari pekerjaan".

Bahkan bagi mereka yg mendukung pendidikan sekalipun, doktrin yg ditanamkan sering kali terlalu kuat untk sekadar fokus memperoleh ijazah agar cepat melamar pekerjaan. Pada titik ini, pendidikan akhirnya berubah menjadi mesin pencetak ijazah dan tenaga kerja yang patuh bukan manusia merdeka.

Manusia merdeka dalam pengertian memiliki kesadaran kritis, sebagaimana yang dikemukakan Paulo Freire dlm pendidikan sebagai praktek pembebasan manusia yang mampu membaca realitas dan menentukan sikapnya secara sadar.

Bukan manusia yang memilih tujuan hidup berdasarkan tekanan psikologis dari standar kebiasaan dan norma sosial masyarakat, melainkan manusia yang mampu menentukan makna dan kebahagiaannya sendiri, sebagaimana ditegaskan Jean-Paul Sartre tentang kebebasan eksistensial

paradigma semacam inilah yg kemudian diadopsi masyarakat secara kontinu dan dikonsumsi sebagai dogma turun-temurun. Pada akhirnya, siklus ini dimanfaatkan oleh segelintir kelompok atau kepentingan yng berorientasi pada keuntungan semata, sementara pendidikan kehilangan ruh.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak