Arah Gerak IMM: Meneguhkan Ideologi, Menggerakkan Aksi

IMMawan Amin Rais
(Ketua Umum Terpilih PC IMM Dompu 2025-2026)

IMM adalah salah satu organisasi kemahasiswaan yang menghibahkan diri sebagai wadah yang tidak hanya berkonsentrasi pada pembentukan sendi-sendi intelektual, tapi juga wadah yang konsisten untuk membentuk integritas dan penguatan komitmen spiritual.
Nilai yang kemudian menjadi cita-cita luhur ini sudah sepatutnya sebagai orientasi struktural dan sekaligus menjadi spirit kesadaran kolektif yang mesti dilestarikan oleh kader-kader IMM, sebab ketika nilai-nilai dasar IMM tidak dijiwai dan diabaikan oleh setiap kadernya, lebih-lebih nyaris hilang dalam dialektika intelektual, maka IMM tentu tidak akan memiliki poros yang menghubungkan dengan dinamika zaman.

Oleh karena demikian, IMM harus kembali hadir dengan ide yang visioner dan karakter yang autentik, karena dengan muatan-muatan itu IMM akan tetap menjadi kekuatan moral bangsa serta menjadi magnet pemikiran umat untuk tidak terjebak dalam dinamika zaman yang cukup dramatis.

Saya sangat percaya bahwa organisasi kemahasiswaan atau organisasi manapun itu tidak akan pernah mati hanya karna kekurangan pengetahuan apalagi kekurangan anggota, akan tetapi organisasi akan mati ketika orang-orang didalamnya kehilangan rasa kepemilikan, salah satunya ditandai dengan aktivitas kader-kadernya yang menjadikan organisasi sebagai batu loncatan, dalam artian untuk kepentingan dan keuntungan (profit) pribadi semata, kemudian menjadikan organisasi sebagai ruang ekspresi demi validasi, ruang pencitraan demi popularitas, hingga menciptakan kontraproduktif, situasi ini yang menjadi episentrum terbentuknya manusia-manusia pragmatis yang bermental kapitalis, dan organisasi otomatis bermetamorfosis menjadi organisasi yang "la ya mutu wala yahya", organisasi yang tidak bermutu dan tidak berdaya.

Oleh karena itu pekerjaan-pekerjaan organisasi adalah pekerjaan yang sistemik, doktrin-doktrin ideologis organisasi mesti digeser secara perlahan menjadi doktrin organisasi sebagai ilmu, bukan dalam pengertian harus anti ideologisasi, namun jika terlalu terlalu ekstrim hanya akan mencetak manusia individualistis, terlalu fanatik terhadap kelompok, hingga membuat gerakan-gerakan organisasi menjadi parsial, situasi ini pun akan sulit menghendaki tranformasi sosial.

Terakhir, melalui narasi ini, saya ingin mengajak kepada kita semua lebih-lebih kader IMM untuk tidak hanya fokus menumbuhkan kesadaran individu, kesadaran kolektif, tapi juga kesadaran sejarah, bahwasanya kita jangan hanya menjadi objek penikmat sejarah, tapi menjadikan diri sebagai subjek yang mengukir sejarah dengan menjemput peran aktor pembawa perubahan, dengan basis seperti yang di tawarkan Kuntowijoyo dalam buku Muslim tanpa Mesjid, untuk menghendaki perubahan dan menyelesaikan problematika kehidupan, ia menawarkan Ilmu Sosial Profetik dengan fondasi Humanisme, Liberasi dan Transendensi, ini sekaligus menjadi PR dan misi kader untuk di manifestasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak