Republik dalam Bayang Ketakutan

Gambar oleh Amin Rais


Republik dalam Bayang Ketakutan
Oleh : Amin Rais (Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Dompu periode 2026-2027)

Ada sindiran moral yang begitu menarik dalam buku Hantu-Hantu Politik oleh Montaigne, terutama pada cara beliau memaknai filsafat. ia menafsirkan filsafat sebagai wahana untuk belajar mempersiapkan diri menghadapi kematian, sebuah jalan yang mengajarkan manusia agar tidak takut mati. Oleh karena itu, ketika manusia memahami kematian, pada saat yang sama ia juga sedang memahami hakikat kehidupan.

Menariknya, Montaigne juga membayangkan suatu kondisi ketika filsafat mengalami disfungsionalitas; bukan lagi menjadi sarana untuk memahami kematian, melainkan berubah menjadi organ yang justru menciptakan kematian itu sendiri.


Ia menggambarkan bagaimana praktik politik dibungkus begitu rapi dengan moralitas palsu, menghadirkan bayang-bayang kesejahteraan kolektif yang tampak megah namun sesungguhnya semu. yang lebih ironis, politik kemudian menjelma menjadi panggung chaos, tontonan rekayasa teror, kerusuhan, dan ketakutan yang dihapus dari pikiran-pikiran jahat, hingga pada akhirnya melahirkan kekacauan dan kematian.

Situasi demikian terasa begitu serupa dengan kondisi bangsa kita hari ini. Rakyat terus disuguhi informasi yang tidak presisi, narasi yang saling mengganggu, serta program bantuan sosial yang sering kali tidak benar-benar berpihak kepada mereka yang paling membutuhkan. sasaran bantuan memang tepat, tetapi tepat pada lingkaran kroni kekuasaan.

Pada titik ini, kita perlu mengingat, apa sebenarnya yang salah dengan bangsa ini? apakah ini sebuah kutukan sejarah?

Sebab sesungguhnya kita pantas menyebut diri kita sebagai bangsa yg besar. kita memiliki begitu banyak doktor, profesor, dan cendekiawan dengan beragam bidang keahlian. kita mempunyai ratusan perguruan tinggi dengan bangunan-bangunan kokoh yang di dalamnya diisi oleh intelektual dalam jumlah tak terhitung. kita juga memiliki instrumen negara yang lengkap, aparat kepolisian, lembaga hukum, serta aparat penegak keadilan. namun hingga hari ini, semua itu belum mampu menyelesaikan lautan problematika dan gelombang persoalan bangsa.


Di sisi lain, bangsa ini justru terus dihantui angka statistik yang menampilkan tingginya kasus-kasus asusila, kekerasan seksual, masifnya dehumanisasi, hingga maraknya pembunuhan di berbagai lini kehidupan di kampus, sekolah, perkotaan, maupun pelosok desa.

Ironisnya, rakyat terus dituntut membayar pajak dengan janji kesejahteraan dan kemakmuran. namun setelah lebih dari setengah abad kemerdekaan, rakyat indonesia seakan masih hidup dalam cengkeraman kolonialisme dan imperialisme dalam wajah yang baru. bukan lagi penjajahan dengan senjata, melainkan penguasaan melalui kekuatan modal, manipulasi informasi, dan kekuasaan oligarki yang perlahan mencabut kekuasaan rakyat atas hidupnya sendiri.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak