![]() |
| Ami Rais (Ketua Umum IMM Dompu periode 2026-2027 saat memberikan sambutan pelantikan pengurus IMM Cabang Dompu) |
oleh : Amin Rais (Ketua Umum IMM Dompu periode 2026-2027)
Saya ingin jujur sebagai warga Dompu. Bukan sebagai lawan politik, bukan pula sebagai pembenci yang hanya mencari-cari kesalahan. Saya menulis ini sebagai bagian dari masyarakat yang hidup, tumbuh, dan merasakan langsung denyut kehidupan daerah ini setiap hari. Sebagai warga biasa yang memiliki harapan besar terhadap daerahnya sendiri. Karena bagi saya, mencintai daerah tidak selalu berarti memuji tanpa henti, tetapi juga berani menyampaikan kegelisahan ketika kenyataan tidak sepenuhnya berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Satu tahun kepemimpinan BBF-DJ telah berlalu. Dalam perjalanan waktu yang tidak terlalu panjang namun cukup untuk memberi gambaran awal tentang arah kepemimpinan. Maka sebagai warga, saya hanya ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana: sudah sejauh mana kepemimpinan ini benar-benar menyentuh denyut nadi rakyat kecil?
Pertanyaan ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Pertanyaan ini lahir dari rasa tanggung jawab sebagai warga yang dahulu ikut menyimpan harapan besar. Kita semua masih ingat bagaimana suasana saat janji perubahan digaungkan. Banyak dari kita yang bersorak, menyambut dengan optimisme. Kita percaya bahwa Dompu bisa bergerak ke arah yang lebih baik. Kita membayangkan sebuah pemerintahan yang mampu bekerja lebih cepat, lebih tanggap, dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Harapan itu tidak berlebihan. Setiap masyarakat berhak berharap bahwa pemimpinnya mampu membawa perubahan nyata. Kita menginginkan birokrasi yang tidak berbelit-belit. Kita menginginkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat kecil, bukan hanya kepada segelintir pihak yang memiliki akses dan kedekatan dengan kekuasaan. Kita juga berharap pembangunan tidak hanya terlihat megah di baliho atau slogan, tetapi benar-benar terasa di kehidupan sehari-hari masyarakat.
Namun hari ini, setelah satu tahun berjalan, sebagian masyarakat mulai bertanya dalam diam. Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selalu terdengar di ruang resmi, tetapi hidup di percakapan warung kopi, di ladang, di rumah-rumah warga, dan di diskusi kecil antar pemuda. Pertanyaan itu sederhana: apakah perubahan yang dijanjikan benar-benar sedang terjadi?
Petani masih berbicara tentang harga hasil pertanian yang tidak stabil. Mereka masih menghadapi ketidakpastian pasar yang membuat kerja keras mereka sering kali tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Bagi petani, stabilitas harga bukan sekadar angka ekonomi. Itu adalah soal keberlangsungan hidup keluarga mereka. Ketika harga turun drastis tanpa perlindungan yang jelas dari pemerintah, maka yang dipertaruhkan adalah masa depan mereka sendiri.
Di sisi lain, para pemuda juga masih menghadapi persoalan yang tidak kalah serius. Banyak dari mereka yang memiliki energi, kreativitas, dan keinginan untuk berkontribusi bagi daerah. Namun ruang untuk berkembang masih terasa terbatas. Kesempatan kerja yang memadai belum sepenuhnya terbuka. Ruang ekspresi bagi generasi muda juga belum menjadi perhatian utama dalam arah pembangunan daerah.
Padahal pemuda adalah bagian penting dari masa depan Dompu. Tanpa keterlibatan mereka, tanpa ruang bagi ide dan kreativitas mereka, maka pembangunan akan berjalan tanpa tenaga baru yang segar. Generasi muda tidak hanya membutuhkan pekerjaan, tetapi juga membutuhkan ruang untuk berpartisipasi, berinovasi, dan merasa bahwa mereka adalah bagian dari masa depan daerah ini.
Selain itu, isu lingkungan juga menjadi perhatian yang belum sepenuhnya mendapatkan arah yang tegas. Kita semua tahu bahwa Dompu memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Tanah yang subur, laut yang luas, dan sumber daya alam yang melimpah. Namun semua kekayaan itu juga membawa tanggung jawab besar untuk dijaga dan dikelola dengan bijak.
Masalah lingkungan bukan hanya persoalan aktivis atau kelompok tertentu. Ini adalah persoalan masa depan daerah. Ketika lingkungan rusak, maka yang pertama merasakan dampaknya adalah masyarakat kecil. Petani kehilangan kesuburan tanahnya. Nelayan kehilangan hasil lautnya. Dan generasi mendatang kehilangan warisan alam yang seharusnya mereka nikmati.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat tentu berharap ada sikap yang tegas dan arah kebijakan yang jelas. Bukan sekadar wacana atau pernyataan yang terdengar baik, tetapi langkah konkret yang benar-benar melindungi lingkungan sekaligus menjaga keseimbangan pembangunan.
Lalu dalam kondisi seperti ini, kita mau mengatakan apa? Bahwa semuanya sedang baik-baik saja?
Tidak. Dompu tidak sedang baik-baik saja.
Mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja justru akan membuat kita menutup mata terhadap kenyataan yang sedang dihadapi masyarakat. Mengakui adanya masalah bukan berarti membenci daerah sendiri. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk kepedulian agar kita tidak terjebak dalam rasa puas diri yang menyesatkan.
Masalah utama sebenarnya bukan pada slogan atau narasi perubahan yang dulu disampaikan. Masalahnya terletak pada keberanian dalam mengeksekusi gagasan tersebut. Karena dalam kepemimpinan, yang paling menentukan bukanlah seberapa indah janji yang disampaikan, tetapi seberapa kuat komitmen untuk mewujudkannya.
Kepemimpinan bukan soal tampil di depan publik semata. Kepemimpinan adalah tentang kemampuan menyelesaikan persoalan. Bukan hanya tentang bagaimana terlihat di permukaan, tetapi bagaimana bekerja kuat di akar permasalahan. Pemimpin yang baik tidak hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi mampu memastikan bahwa perubahan itu benar-benar terjadi.
Mandat yang dipegang oleh BBF-DJ adalah mandat yang besar. Mandat itu bukan sekadar jabatan selama lima tahun. Ia adalah kepercayaan masyarakat yang lahir dari harapan panjang terhadap masa depan Dompu. Kepercayaan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia diberikan oleh rakyat yang percaya bahwa pemimpin yang mereka pilih mampu membawa arah baru bagi daerah ini.
Namun sejarah tidak pernah menilai pemimpin hanya dari niat baiknya. Sejarah selalu menilai dari dampak yang dihasilkan. Sejarah akan bertanya: apa yang benar-benar berubah selama masa kepemimpinan itu? Apa yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat?
Karena itu, yang dibutuhkan Dompu hari ini adalah langkah-langkah konkret. Bukan hanya rencana, bukan hanya konsep, tetapi tindakan nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Transparansi anggaran menjadi salah satu hal yang sangat penting. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana anggaran daerah digunakan. Keterbukaan dalam pengelolaan anggaran akan menciptakan kepercayaan publik dan memastikan bahwa setiap rupiah yang digunakan benar-benar kembali kepada kepentingan rakyat.
Selain itu, keberpihakan pada ekonomi rakyat juga harus menjadi prioritas utama. Kebijakan ekonomi daerah seharusnya tidak hanya mendorong pertumbuhan angka-angka statistik, tetapi juga memastikan bahwa manfaat pembangunan dirasakan oleh masyarakat kecil. Petani, nelayan, pedagang kecil, dan pelaku usaha lokal harus menjadi bagian utama dari arah pembangunan.
Reformasi birokrasi juga menjadi tantangan besar yang tidak bisa dihindari. Birokrasi yang lamban dan berbelit-belit hanya akan menghambat pelayanan kepada masyarakat. Jika pola kerja lama terus dipertahankan, maka perubahan yang diharapkan masyarakat akan sulit terwujud.
Dompu membutuhkan birokrasi yang lebih responsif, lebih efisien, dan lebih terbuka terhadap kebutuhan masyarakat. Aparatur pemerintah seharusnya hadir sebagai pelayan publik yang memudahkan, bukan sebagai sistem yang justru mempersulit.
Di samping itu, komunikasi yang jujur kepada publik juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Masyarakat tidak selalu menuntut kesempurnaan dari pemimpinnya. Mereka memahami bahwa setiap pemerintahan pasti menghadapi tantangan. Namun yang mereka harapkan adalah kejujuran dalam menyampaikan kondisi yang sebenarnya.
Komunikasi yang jujur akan menciptakan hubungan yang sehat antara pemerintah dan masyarakat. Ketika masyarakat merasa dihargai sebagai bagian dari proses pembangunan, maka kepercayaan publik akan tumbuh dengan sendirinya.
Karena pada akhirnya, kritik bukanlah tentang menjatuhkan seseorang. Kritik adalah alarm yang mengingatkan bahwa masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Dalam demokrasi, kritik adalah bagian dari mekanisme yang menjaga agar kekuasaan tetap berjalan di jalur yang benar.
Justru yang lebih berbahaya bukanlah kritik atau demonstrasi. Yang lebih berbahaya adalah ketika masyarakat mulai merasa apatis. Ketika rakyat sudah tidak peduli lagi terhadap apa yang terjadi di daerahnya sendiri, maka itu adalah tanda bahwa kepercayaan publik sedang mengalami krisis.
Apatisme adalah musuh terbesar bagi pembangunan daerah. Ketika masyarakat kehilangan harapan, maka partisipasi publik akan melemah. Dan tanpa partisipasi masyarakat, pembangunan tidak akan pernah berjalan dengan kuat.
Karena itu, kritik yang disampaikan hari ini seharusnya dilihat sebagai bentuk kepedulian. Sebuah ajakan untuk bersama-sama memperbaiki apa yang masih kurang. Sebuah pengingat bahwa harapan masyarakat masih ada, dan harapan itu masih menunggu untuk diwujudkan.
Saya percaya bahwa setiap pemimpin memiliki kemampuan untuk belajar. Tidak ada kepemimpinan yang sempurna sejak awal. Setiap pemimpin pasti menghadapi proses, tantangan, dan dinamika yang tidak mudah. Namun proses belajar itu harus dimulai dari kesadaran bahwa masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki.
Kesadaran inilah yang menjadi titik awal dari perubahan yang sebenarnya. Ketika seorang pemimpin mampu mendengar suara masyarakat, menerima kritik dengan lapang dada, dan menjadikannya sebagai bahan refleksi, maka di situlah kepemimpinan yang matang mulai terbentuk.
Dompu hari ini tidak hanya membutuhkan janji atau harapan. Dompu membutuhkan pembuktian. Masyarakat tidak hanya ingin mendengar narasi perubahan, tetapi ingin melihatnya hadir dalam kenyataan.
Pembuktian itu bisa hadir dalam banyak bentuk. Dalam kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil. Dalam pelayanan publik yang lebih cepat dan transparan. Dalam pembangunan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Dan dalam keberanian untuk mengambil keputusan yang berpihak pada masa depan daerah.
Karena pada akhirnya, sejarah Dompu akan terus berjalan. Waktu tidak pernah berhenti. Dan setiap masa kepemimpinan akan meninggalkan jejaknya sendiri. Pertanyaannya adalah: jejak seperti apa yang ingin ditinggalkan?
Apakah hanya sekadar cerita tentang janji yang tidak sepenuhnya terwujud, atau menjadi kisah tentang kepemimpinan yang benar-benar membawa perubahan?
Sebagai warga Dompu, saya tentu berharap yang kedua. Karena daerah ini terlalu berharga untuk berjalan di tempat. Dompu memiliki potensi besar, memiliki masyarakat yang kuat, dan memiliki masa depan yang layak diperjuangkan.
Harapan itu masih ada. Namun harapan harus dibarengi dengan kerja nyata. Dompu tidak membutuhkan sekadar optimisme. Dompu membutuhkan keberanian untuk membuktikan bahwa perubahan memang benar-benar sedang diperjuangkan.
